#32 Bali

Putu Wijaya
Cetakan pertama, 2004
Penerbit Kompas
vi + 218 halaman
My Rate: 4/5

Bali adalah persentuhan pertama saya dengan Putu Wijaya. Sepanjang membaca, saya berpikir untuk nantinya mencari tahu tentang Putu Wijaya lebih jauh lagi, karyanya apa lagi ya? Karena memang baru belakangan, awal tahun ini tepatnya, saya akhirnya tahu beberapa nama sastrawan terkemuka Indonesia, semisal; Budi Darma, Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer, dan ya Putu Wijaya. Tiga nama terakhir, satu satu buku mereka akhirnya saya baca.

Sampai di bagian akhir, saya tahu bahwa saya tak  perlu segera mencari informasi lagi tentang Putu Wijaya karena buku ini ditutup dengan biografi singkat beliau. Dan biografi singkat itulah yang menjawab pertanyaan mengapa saya merasa saya seperti tergesa-gesa membaca buku ini. tulisan-tulisan beliau di sini memang memiliki ritme cepat. Bahkan sering mengagetkan. Dan kunci tiap tulisannya adalah percakapan antar tokoh.

Saya menyukai distorsi. Pematahan atau pembalikan yang tiba-tiba. Unsur kejutan itu berasal dari pengaruh dari penulis seperti Anton Chekov, seorang yang saya kagumi karena kesederhanaan, orisinalitas, humor serta seorang master plot yang sulit dicari tandingannya. Dalam tulisan-tulisan saya juga plot sangat penting. Kejutan dan ketidakterdugaan tersebut menjadi semacam distorsi batin yang membawa pencerahan. Saya melihatnya sebagai semacam teror dalam pengertian yang positif. Dari sanalah kemudian saya mengembangkan ide-ide menjadi ‘teror mental’, usaha untuk memberikan pencerahan dengan kejutan. Jadi ‘teror mental’ adalah upaya, bukan tujuan, untuk membuat batin yang sudah stagnan terbuka kembali.

Buku ini diisi cerpen-cerpen yang adalah serial kehidupan keluarga Pak Amat. Serial yang banyak episodenya dan beragam sekali temanya. Bali, Teror, Perempuan, Pembangunan, Sopir, hingga Bahasa. Pak Amat, Bu Amat dan Ami. Keluarga yang cukup ‘ajaib’. Sangat sering berdiskusi. Diskusi dengan argumen berlogika. Kalimat aktif-reaktif. Ya kayak saya bilang tadi, ritme cepat. Kadang meledak-ledak, kalimat Ami biasanya. Menenangkan, kalimat Bu Amat. Generasi tua, kalimat Pak Amat.

Hal-hal apa yang keluarga kecil itu bahas? Sesuai judul, bagian awal adalah tentang kebalian –hingga tradisi dan istilah Bali. Bahkan beberapa cerpen mengambil isu teror Bali. Bagian awal inilah –kebalian yang membuat saya pening karena saya ‘ngga nyampe’. Tapi setelahnya, saat keluarga itu membahas isu-isu krusial lainnya, saya berangsur bisa menikmati. Karena saya mendapat sisi kritis dan sisi keterbukaan dari setiap cerpen.

Semisal tulisan berjudul ‘Liburan’. Yang dimaksud adalah liburannya anak sekolah. Libur telah tiba. Libur telah tiba. Hore! Hore! Hore! Anak-anak menyambut gembira masa liburan yang datang, bagaimana dengan orang tua? Loh loh kok para tetangga bingung. Alasannya, acara apa yang akan mereka siapkan untuk anak mereka. Kalau nganggur, mereka bisa sering merecoki pekerjaan rumah. Kalau dibiarkan, mereka akan ngambek. Singkatnya, ada kalanya orangtua dibuat serba salah.

Ami protes, ‘berarti anak-anak itu beban?’.

Pertanyaan yang mencengangkan Bu Amat, ‘Kenapa kamu bilang begitu?’

‘Sebab kehadirannya selalu membawa sakit. Sakit sejak meahirkan dan sakit lagi ketika membesarkan, belum sakit waktu mendidik, dan sakit lagi selama waktu-waktu liburan seperti keluhan tetangga-tetangga itu.’

Bu Amat tak mejawab.

‘Apakah keberadaan Ami di rumah juga Ibu anggap sebagai beban?’

Ami aktif bertanya, begitu seterusnya hingga pak Amat juga kadang nimbrung. Hingga akhirnya, kalimat pamungkas datang dari Bu Amat.

‘Anak adalah sebuah bencana,’ kata Bu Amat sambil memandang Ani, seakan-akan sedag megutip ucapan seorang sastrawan di dalam buku.

‘Anak adalah sebuah kutukan, Ami,’ lanjut Bu Amat. ‘Tapi sebagai orangtua, semua itu kami terima seperti sebuah karunia. Karena berkat kamulah, kami jadi berjuang, bekerja lebih keras, bermimpi lebih banyak, memaksakan diri dan berhasil mendapatkan rumah serta kecukupan seperti sekarang. Berkat kamulah, aku, ibu kamu dan bapak kamu, masih tetap bersatu seperti sekarang. Kalau tidak ada beban seperti kamu, tak akan mungkin semua ini sebaik seperti sekarang.’

Liburan – halaman 90-94

Atau di lain kesempatan, keluarga ini menyoalkan takaran pembangunan. Pak Amat kekeuh bahwa takaran pembangunan secara kuantitas sepihak perlu dihentikan. Ia ajak tetangganya diskusi sembari menyuguhkan duren. Tak ada yang membantah, dibungkam nikmatnya dure. Hingga akhirnya Ami menimpali, bapaknya lah yang salah kaprah. Wong giliran bapak menilai usahanya tetap saja ya pakai angka.

‘jadi aku juga salah?’

‘iya, dong!’

‘habis mestinya bagaimana?’

‘ya mestinya, pembangunan atau kemajuan itu jangan ditakar dengan angka!’

‘lalu dengan apa?’

‘dengan rasa’

Amat melongo.

‘Rasa? Tapi rasa itu tidak ada kepastian. Rasa itu bukan tolok ukur. Bukan takaran. Pada masing-masing orang berbeda. Pada berbagai keadaan juga berubah-ubah. Bagaimana mengukur sesuatu dengan sesuatu yang tidak pasti?’

Ami kontan menangkis.

‘Karena memang tidak perlu diukur! Pembangunan tidak harus diukur, tapi dirasakan. Kalau masyarakatnya merasa sudah mantap, artinya sudah ada pembangunan, walau tidak ada penampakan angka. Sebaliknya, meskipun ada peningkatan angka berapa kali lipat juga besarnya, tapi kalau masyarakatnya tidak merasakan sesuatu yang meningkat, berarti tidak terjadi pembangunan, tetapi pembengkakan. Hanya dengan cara seperti itu, pembangunan bukan saja positif tetapi bermanfaat dengan lingkungan di sekitarnya, sesuai dengan semangat otonomi daerah sekarang!’

Takaran – halaman 141-145

Ami yang selalu kritis, dan Bu Amat juga Pak Amat yang selalu berusaha menjawab pertanyaan kritis anaknya dengan baik. Meski dalam buku ini akan sering kita temukan ‘dialog perseteruan’ di antara mereka, tetapi seperti tujuan Putu Wijaya: ada teror mental agar ‘kacamata’ kita tidak stagnan.

5 thoughts on “#32 Bali

  1. Suka banget kutipan yang ini:

    ‘Anak adalah sebuah kutukan, Ami,’ lanjut Bu Amat. ‘Tapi sebagai orangtua, semua itu kami terima seperti sebuah karunia. Karena berkat kamulah, kami jadi berjuang, bekerja lebih keras, bermimpi lebih banyak, memaksakan diri dan berhasil mendapatkan rumah serta kecukupan seperti sekarang. Berkat kamulah, aku, ibu kamu dan bapak kamu, masih tetap bersatu seperti sekarang. Kalau tidak ada beban seperti kamu, tak akan mungkin semua ini sebaik seperti sekarang.’

    Khas Putu Wijaya, judul cerpennya satu kata.

    Like

  2. Assalamu’alaikum….

    Ih, Mbak bingung manggilnya, Fara atau Ziyya hehehe

    Maaf, sebulan lebih Mbak gak OL di lapi, jadi baru bisa OL sekarang2 ini.

    Hanya beberapa kali membaca cerpen2nya Putu Wijaya…
    Reviewnya menarik, pengen deh belajar🙂

    Mengenai BHSB, Ziyya ikutan yang fase kelima aja, yah? Soale yang fase keempat sudah tutup🙂. Insya Allah, akan Mbak up-date di blog, nanti Mbak kabar2in lagi🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s