#28 “Aku Kesepian Sayang.” “Datanglah, Menjelang Kematian.”

“Aku Kesepian Sayang” “Datanglah, Menjelang Kematian”
Seno Gumira Ajidarma
Cetakan Kedua, Juli 2004
Gramedia Pustaka Utama
202 halaman
My Rate: 3/5

Buku ini merangkum cerpen-cerpen SGA yang tidak beririsan dengan sukab ataupun senja. Tetap menarik, meski tidak ada senja ataupun sukab di sini. Tapi dari keseluruhan cerpen yang dikumpulkan dalam buku ini, total ada 15 cerpen, hanya dua yang saya nikmati tanpa banyak bingung. hehhe:mrgreen:

Cerpen ketiga, “Melodrama di Negeri Komunis”-Harian Media Indonesia, Desember 2002. Negeri komunis yang menjadi latar cerpen ini adalah Korea Utara. Dan iya, cerita ini melodrama. yang membuat cerpen ini menjadi melodrama  adalah sintesis roman dengan latar Korea Utara. Korea Utara sebagai negara yang tertutup, mandiri, dan penuh dengan peraturan mengikat ke dalam membawa pengaruh yang signifikan terhadap kisah dua tokoh: yang satu orang luar Korea Utara, yang lainnya warga Korea Utara yang bangga terhadap negaranya yang oleh orang luar terlihat monoton. 

 “Rakyat negeri kami sangat berterimakasih dan merasa sangat berutang budi kepada pemimpin kami, patung dan berbagai monumen di kota ini merupakan bukti kecintaanrakyat kami kepada sang pemimpin. Betapapun beliau telah membimbing kami keluar dari nestapa penjajahan, sehingga kami sekarang bisa merasakan apa artinya hidup bahagia.”

 Yang terlihat monoton dan ketinggalan zaman, merupakan situasi bahagia bagi mereka.

Cerpen lainnya yang saya nikmati dalam kumpulan cerpen ini adalah cerpen ketigabelas yang berjudul: “Dunia Gorda” -1980. Yang membuat saya menikmati cerpen ini adalah bagian pengantarnya. Tokoh Gorda adalah seorang yang sukar tidur. Biar tidak gelisah dalam menunggu kantuknya untuk hadir, ia membaca buku demi menunggu kantuk. Lalu cerita Gorda ini semacam cerita awake. Gorda punya dua dunia, saat ia bangun dan saat ia tertidur. Dunia yang keduanya berjalan dan seolah wajar, dan Gorda menjalani identitas berbeda di dalamnya. Kedua dunia yang sama-sama menguras batinnya.

Its interesting story🙂

Over all, meski saya gagal paham pesan yang hendak disampaikan SGA dalam cerpen-cerpennya yang lain, saya tetap mendapat wawasan: mengenal SGA dan gaya sastranya.

6 thoughts on “#28 “Aku Kesepian Sayang.” “Datanglah, Menjelang Kematian.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s