#26 Estetika Rasa Dalam Kisah Borno

Judul Buku │ Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Peresensi │ Fauziyyah Arimi

Penulis │ Tere Liye

Penerbit │ Gramedia Pustaka Utama

Cetakan │ I, Januari 2012

Tebal │ 512 halaman

 

“Untuk orang seperti kau, yang jujur atas kehidupan, bekerja keras dan sederhana, definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang amat berbeda, amat menakjubkan.” –Pak Tua

 

Akan ada kisah cinta yang mengambil bentuk berbeda dalam novel ini. Kisah cinta yang dimiliki seorang bujang yang namanya terinspirasi dari nama sebuah pulau: Borno.

Di usia 12 tahun, ia tak lagi memiliki ayah. Ayahnya meninggal tersengat ubur-ubur, terjatuh dari sepit yang dikemudikannya. (Hmm.. kalian tahu, apa itu sepit? Sejenis perahu dengan motor tempel dan menjadi alat transportasi di bagi warga sekitar tepian sungai Kapuas) Menyadari usianya yang hanya tersisa sebentar, ayah Borno memutuskan mendonorkan jantungnya. Sebuah keputusan yang sangat tidak dimengerti Borno, tapi merupakan peristiwa yang menjadi benang merah dan mempengaruhi sebagian kisah hidupnya kelak.

Lepas SMA, Borno tidak lanjut kuliah. Ia memilih langsung bekerja. Menjadi karyawan di pabrik karet hingga menjadi penjaga loket karcis kapal feri. Pekerjaan terakhirnya itu lah yang menjadi batu sandungan tersendiri, karena orang-orang di lingkungannya mulai menentangnya. Apa pasal? Posisi Borno, menjadi salah satu pekerja di kapal feri padahal ia adalah seorang cucu dari tokoh masyarakat sekitar tepian Kapuas yang menghidupkan keberadaan sepit itu sendiri. Dalam benak Bang Togar, ketua perkumpulan pengemudi sepit, Borno benar-benar tak tahu diri. Bagaimana bisa ia berpihak pada teknologi bernama kapal feri yang menjadi penyebab merapuhnya penggunaan sepit di tepian Kapuas sana?

Tak tahan tak dibolehkan menggunakan sepit dan dengan pertimbangan kerabat sekitarnya, Borno membentangkan bendera putih: menyerah. Lepas itu, Borno kerja serabutan. Hingga satu malam, Koh Acong, Cik Tulani, Pak Tua dan Ibu Borno berdiskusi. Mereka membincangkan masa depan Borno, dan sampai pada sebuah konklusi bahwa  Borno perlu mengikut jejak ayahnya: menjadi pengemudi sepit.

Dua minggu ia berpikir, mematangkan kemungkinan lalu memutuskan untuk mengiyakan. Setelahnya, selama seminggu ia berlatih mengemudikan sepit bersama Pak Tua lalu di-plonco oleh Bang Togar. Dan tiba lah hari tersebut, hari pertama ia resmi menjadi pengemudi sepit yang ternyata menjadi permulaan kisah cintanya. Hari itu ia bertemu sesosok perempuan berbaju kurung dan menggunakan payung. Seorang perempuan yang ketika didapati wajahnya, sendu menawan, membuatnya terpana tepat ketika ia bertatap muka. Seorang perempuan peranakan Cina yang belakangan ia ketahui bernama Mei. Yang sepeninggalnya menjatuhkan, sengaja tidak sengaja, sepucuk angpau merah di sepit Borno.

“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan.”

Lalu setelahnya, kita akan melihat Borno mengupayakan cintanya. Norak tidak norak, tergantung pembaca. Ia merekayasa urutan sepitnya di dermaga menjadi urutan ketiga belas. Urutan paling pas, yang telah diperkirakannya selama beberapa hari, untuk Mei selalu naik diatas sepitnya seolah kebetulan. Lalu dengan malu-malu ia memanfaatkan bahan cerita dari Pak Tua untuk berbincang dengan Mei. Mengulurkan bantuannya kepada Mei untuk belajar mengemudikan sepit. Dalam pendekatan yang dilakukan Borno, kita akan menyaksikan riak hatinya, kepolosannya, dan kelurusan hatinya menanggapi perasaannya sendiri.

Suatu minggu, pada pagi yang dijanjikan oleh Mei dan Borno untuk mereka nikmati akhir pekan itu bersama, di saat itu pula Pak Tua jatuh sakit. Borno telat datang ke tempat yang dijanjikan. Dengan rasa bersalah, ia mendatangi sekolah tempat Mei mengajar lalu meminta alamat rumah Mei. Naas, saat ditemui dirumahnya, Mei hendak berangkat saat itu juga dengan penerbangan sore untuk kembali ke Surabaya. “Tetap semangat menarik sepit ya, Bang.” Pesan itu yang tertinggal dihari-hari kesudahannya, hari-hari Borno tanpa kehadiran Mei.

Bila kisah cinta Borno semacam pesawat ulang alik, dalam novel ini perasaan borno dibawa naik turun. Senang, sendu, khawatir, gelisah, sedih, bersemangat; persis petuah cinta Pak Tua. Di suatu kesempatan, ia pergi ke Surabaya bersama Pak Tua. Rindu bertemu yang terentang selama enam bulan, genap sudah. Dilunaskan rindu itu di hari-harinya selama di Surabaya. Sayang, selesainya terapi Pak Tua membuat mereka harus  kembali ke Pontianak. Lalu kehidupan kembali berjalan seadanya keseharian Borno tanpa Mei.

Tunggu sebentar pembaca, tak cukup Mei dan Borno saja yang ada dalam lingkaran merah jambu pada novel ini, Tere Liye menghadirkan Sarah. Dokter gigi cantik yang juga peranakan Cina. Seorang wanita yang ceria, bersemangat, dan bersinar. Pembawaan yang berbeda dengan Mei, si sendu menawan. Belum lagi kenyataan nantinya bahwa Mei dan Sarah terkait dengan peristiwa pendonoran jantung Ayah Borno. Disinilah komplikasi itu bermula dan memunculkan warna kelabu dalam hubungan Borno – Mei – Sarah.

Angpau Merah

Semula memang Borno sudah mengira bahwa amplop merah itu menyembunyikan surat didalamnya. Tapi tak berani ia ikut campur mengetahui isi amplop yang bukan miliknya hingga amplop itu tersimpan. Suatu kali, Mei membagikan angpau kepada murid-muridnya. Sama warnanya, merah, dengan amplop yang tertinggal di sepitnya dahulu. Maka jatuhlah kesimpulan itu, mungkin amplop merah sebelumnya pun bukan surat, tetapi angpao. Sampai pada kesimpulan itu pun, Borno masih belum membukanya.

Lantas, mengapa sampai sepucuk angpau merah itu menjadi judul novel ini? Akan aneh rasanya bila angpao merah itu sama halnya dengan angpao merah lainnya yang identik. Dan ya, memang ada sesuatu. Kelak, dalam novel ini, angpau merah tersebut menjadi semacam pandora: melengkapi liku cerita antara Borno dan Mei.

Kisah a la Tere Liye

Kalau pembaca mengikuti karya-karya Tere Liye, pastilah mendapati sesuatu yang tipikal. Dalam karya-karyanya, ia kerap memainkan kata dan menyulap susunan kata sederhana menjadi petuah yang membuat pembaca mengangguk-angguk. Petuah yang tak menggiring tapi tak terlihat menggurui. Hal itu ia mampatkan dalam narasi salah satu atau beberapa karakter ciptaannya. Dalam novel ini, kita akan menyorot Pak Tua yang menjadi keladi dari petuah-petuah cinta yang mampir ke telinga para bujang: Borno dan sahabatnya, Andi.

Pada karyanya yang lain, ada pola serupa, yakni keberadaan sesosok bijak. Misalnya dalam Ayahku (bukan) Pembohong, ada sang Ayah yang perikehidupannya diluar kebiasaan. Pemilik segala cerita dongeng yang adalah kenyataan. Pada Serial Anak-anak Mamak, ada Bapak yang menjadi sosok pelurus, yang tenang dan menjadi penyerasi sosok Mamak dihadapan empat anaknya.

Selain sosok-sosok bijak, nampaknya Tere Liye juga suka menyisipkan konsep ‘butterfly effect’ dalam karyanya. Sebutlah Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, hampir saja begitu rumit benang hubungan antar tiap tokoh, tapi kesemuanya memiliki kisah yang relevan dan masuk sekali dalam garis besar kisah yang dimaksudkannya. Dalam novel ini pun, hubugan Borno – Mei – Sarah dipakaikan efek serupa.

Tahukah pembaca, Tere Liye berhasil menciptakan karakter-karakter santun yang hampir-hampir menjadi idola bila saja karakter-karakter tersebut nyata. Di antara sajian televisi yang menghadirkan karakter-karakter picik nan berlebihan, karya-karya tere liye sejauh ini tidak dalam rel tersebut. Ia asyik saja menghasilkan karakter-karakter santun yang narasi kisah mereka bisa diambil keteladanannya. Seperti menggiring pembacanya bahwa karakter-karakter dengan luhur budi itu tidaklah basi. Bukankah setiap kita selalu bisa terpesona dengan kebaikan pekerti?

Menilai Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

Sunset bersama Rosie, mengambil latar Lombok dan Bali. Serial anak-anak mamak, menghidupkan latar bagian barat Sumatra. Lalu novel ini menjajakan Kapuas. Dia mendapat poinnya disini, karena pasar pembaca mulai suka dengan diangkatnya tema-tema lokalitas. Karena pasar pembaca seperti kehausan atas keindahan tanah airnya sendiri. Satu novel ini, membuka satu petak lebih luas akan identitas lokal kita.

Selain latar Kapuas, tentunya corak sosialnya menjadi nilai tambah. Bahwa di dalam lingkaran keseharian Borno, bujang asal Kapuas, dihuni beberapa kebangsaan. Melayu, suku setempat, dan keturunan Cina. Ada representasi masing-masing dengan hadirnya tokoh Koh Acong dan Cik Tulani. Belum lagi Bang Togar yang batak, Kak Unai dari suku dayak hingga Andi si pendatang Bugis di Kapuas sana. Poin keragaman juga hendak dimunculkan Tere Liye.

Secara teknis, novel ini lempang. Tak banyak cacat. Karena ini bukan karya pertama, karena memang narasi Tere Liye selalu bisa memikat dan kadang tidak umum. Bahkan, apa kalian tahu pembaca? Dalam lembar pertama novel ini yang biasanya menyertakan identitas buku, tidak disertakan nama penyunting dalam lembar tersebut. Ketiadaan itu, apakah karena memang hampir sempurnanya teknis penulisan novel ini, sehingga hasil akhir novel ini pun disunting sendiri?

Satu hal, yang mungkin tidak saya sepakati adalah anomali Pak Tua. Mengapa saya beranggapan Pak Tua justru karakter yang anomali? Tere Liye menggambarkan karakter Pak Tua sebagai seorang tua yang cerdas, bicaranya berbobot, kalimat yang dia gunakan pun begitu gampang diterima telinga dan hati. Pak Tua ini adalah seorang yang telah banyak berjalan-jalan di muka bumi, ibaratnya seperti itu, banyak kisah yang dia temui, banyak teman, banyak pengalaman hingga Borno pun menganggap apa yang dikatakan Pak Tua selalu lah benar. Petuah-petuah cinta akan kita dapati darinya dan sarat dibagi dalam novel ini tapi bagaimana lah itu statusnya yang justru membujang seumur hidupnya? Demi alasan apa?

Saya, dan ini opini pribadi, justru menganggap hal itu aneh. tidakkah akan lebih mengagumkan bila dalam situasinya, Pak Tua memiliki wanita dibelakangnya? Tidakkah keberadaan wanita justru akan menguatkan karakter bijak Pak Tua? Tidakkah keberadaan wanita atau kisah cintanya sendiri akan mempatenkan petuah-petuahnya? Ah, sekali ini ini hanya pendapat  pribadi. Karena mungkin sekali, Tere Liye memilih tokoh ini ditampilkan dengan agak misterius.

Dalam keseluruhan, novel ini sangat baik untuk dibaca; diberitakan; digali siratan nasihat-nasihat di dalamnya. Apalagi bagi muda dan mudi yang kerap galau perihal perasaan.

Dan, selamat membaca.


Twitter: @faraziyya

Blog: blogbukufaraziyya.wordpress.com

12 thoughts on “#26 Estetika Rasa Dalam Kisah Borno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s