Dibikin Gaduh oleh Buku

gambar dari sini

Ternyata, wanita mungil yang baru saya kenal beberapa minggu itu pernah bekerja sebagai editor di kompas gramedia. Hampir menjadi editor tetap setelah dua tahun bekerja disana, tapi karena ada perbedaan prinsip, ia lalu memilih mengundurkan diri. Saya memperkenalkan diri sebagai pembaca, dan kami saling bercerita.

Saya bertanya beberapa hal, termasuk tentang beberapa terbitan Gramedia yang belakangan ini rasanya tidak rapi. Saya mengambil contoh Gadis Kretek. Saat itu memang terbitan Gramedia yang terakhir saya baca (di bulan Mei) adalah Gadis Kretek dan Three Weddings and Jane Austen. Di keduanya, terdapat  typo-typo yang cukup membuat tidak nyaman. Lalu ia menjawabnya dengan menggambarkan kondisi penerbit dengan nuansa persaingan dan keotomatisan untuk memproduksi buku mengikuti kemauan pasar. Nah, terkait kejar target produksi ini yang katanya mungkin menjadi penyebab kurang jeli nya para penyunting terhadap buku yang sedang dikerjakannya.

Sejenak, mari beralih ke pemberitaan gramedia pembakar buku yang ramai di linimasa sebuah klub buku. Bila beralih ke sana maka yang akan kita gunjingkan adalah buku ‘5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia’. Karena ada beberapa bagian yang menyiratkan penghinaan penulis terhadap Nabi Muhammad saw. Hal ini diketahui pasca surat pembaca yang dilayangkan ke Republika. Setelah itu pula, mungkin, FPI gerah dan turut andil mengecam Gramedia.

Tak lama, Gramedia meminta maaf (lewat rubrik dalam surat kabar Republika juga) dan menarik buku tersebut yang berada dalam jaringan Gramedia. Lalu kemarin, terjadi tindakan pembakaran buku oleh Gramedia dan disaksikan perwakilan pihak MUI, tapi tanpa kehadiran FPI. Ternyata inisiasi pembakaran buku oleh Gramedia tidak cukup bagi FPI, karena mereka terus akan memperkarakan persoalan penghinaan Nabi Muhammad ke jalur hukum.

Sampai sini, saya sebagai pembaca dan sedang mencintai buku, paham bila kemudian twitter komunitas buku ramai menyesalkan perbuatan Gramedia dalam membakar buku. Inisiasi pembakaran buku untuk menyelesaikan masalah, bukanlah tindakan yang tepat. Meredam penghinaan terhadap Nabi kita yang dibawa Douglas Wilson dalam bukunya itu saya rasa cukup dengan menarik buku dari pasar dan proses hukum terkait konten penghinaan tanpa membakar fisik buku.

Saya khawatir pembakaran buku itu adalah keputusan tergesa demi meladeni FPI yang mengecam Gramedia. Ingin buru-buru menyelesaikan tapi meninggalkan jejak sejarah tidak bagus bagi masa depan penyikapan terhadap buku bagi generasi kelak. Sebelum saya sok berkata ini itu, sebenarnya ada pelajaran bagi kita semua. Dan bukankah memang persoalan yang ada dihadapan selalu menyiratkan hikmah?

Maka menurut saya, salah satunya adalah hikmah bagi para penyunting dan pekerja buku yang ada di balik layar produksi buku. Kejelian sangat diperlukan. Apalagi pemahaman dan wawasan, mana yang proper untuk disajikan pada pembaca dan mana yang tidak. Pengendalian konten yang berpotensi menyangkut SARA. Kehati-hatian semacam ini tergerus karena kejar produksi demi pasar yang sekarang dilakukan bersamaan dengan menjamurnya penerbit yang meniscayakan persaingan. Sayangnya, akar masalah semacam ini yang juga menjadi penyebab kegaduhan buku yang satu nya, kegaduhan novel yang disinyalir mengandung konten pornografi dan menyebar di perpustakaan sekolah dasar.

Ah, mungkin kegaduhan terkait buku ini mengajak kita untuk membaca dengan benar. Karena intinya membaca dan buku sebagai alatnya bertujuan mengayakan kita, bukan memecah belah dan seharusnya tidak menyulut pertengkaran. Hanya saja buku memang alat, dan kita –penulis maupun pembaca- perlu berhati-hati atau setidaknya memikirkan pertanggungjawabannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s