#25 Three Weddings and Jane Austen

Penulis : Prima Santika

Penyunting : Nana Soebianto

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Januari 2012

Tebal : 464 halaman

“What’s wrong with Jane anyway? Meski nggak semua masalah romantis bisa dijawab oleh kisah Jane Austen, menurut Mama yang ngga punya latar belakang pengalaman bercinta seperti kalian anak muda zaman sekarang, kisah-kisha ini adalah bekal Mama untuk bisa menjadi bagian dalam hidup kalian anak-anak gadis Mama. Emang sih, Mama kurang berpendidikan karena nggak baca-baca buku lain. But Jane is all I have, and its enough for me, wheter you like it or not!” -Ibu Sri, arguing with Lisa.

464 halaman, dua bagian, dan terangkum dalam sembilan bab. Awalnya terasa tebal, tapi saat mengerti bahwa tulisan ini menyesakkan empat sudut pandang dari empat wanita berbeda, halaman setebal itu menjadi relevan. Ibu Sri, dan tiga anaknya: Emma, Meri, dan Lisa. Ibu Sri, Sang Mama, yang terobsesi karya-karya Jane Austen dan anak-anak yang dinamainya mengait dengan tokoh-tokoh ciptaan Jane Austen. Emma, diambil dari Emma Woodhouse dalam novel Emma. Meri dari Marriane Dashwood dalam novel Sense and Sensibility. Lisa, diambil dan disesuaikan dari Elizabeth Benneth dalam novel Pride and Prejudice.

Mungkin Ibu Sri telah sedemikian masuk ke dalam karakter fiksi yang diciptakan Jane Austen. Bermula dari mengambil nama dari tokoh rekaan Jane, hingga bercermin dengan karakter dan tingkah laku para tokoh buatan Jane dalam menyelesaikan masalah. Nantinya semuanya merefleksi Jane Austen. Dalam atmosfer Jane Austen dan –setidaknya- empat karyanya: Emma, Persuasion, Pride & Prejudice, dan Sense & Sensibility.

Emma, 35 tahun, kehidupannya berkecukupan dan karirnya lancar. Sulung yang selalu diupayakan oleh sang Mama, Ibu Sri, untuk dijodohkan dengan para dokter dari rumah sakit tempat Ayahnya bekerja. Bukannya tak pernah menjalin hubungan cinta, karena dalam awal percintaannya ada nama Adit. Seseorang yang dekat, mereka berpacaran, tapi tidak bisa menikah karena perbedaan. Ada dokter Joko, yang berhasil hingga kencan kedua dengannya tapi pada akhirnya membawa trauma dan meyakinkan dirinya untuk: menjaga hati selihai mungkin. Hingga dokter Dian dan terakhir Krisna. Yang satu adalah seorang yang tak kunjung menawarkan keterikatan hubungan. Yang satu adalah seorang yang mengajaknya menikah hanya dalam dua pertemuan.

Meri, 30 tahun, si cantik yang melankolis penyuka Jazz dan Broadway. Karena kegagalan hubungannya dengan Edo –yang menghamili orang lain, Meri telah pasang pagar dan tak seperti Emma karena ia selalu dari awal menolak datangnya laki-laki dari arah perjodohan. Sampai akhirnya ia bertemu Bimo, teman kursus Bahasa Prancis. Hubungan mereka sangat adem, dan mungkin itulah, kedatangan Erik menjadi cobaan tersendiri terutama bagi Meri.

Lisa, 29 tahun, agak keras kepala dan belum pernah berpacaran mungkin –salah satunya- karena kriteria yang ia miliki tergolong tinggi. Pun dia bukanlah seseorang yang sensitif akan kehadiran cinta itu sendiri. Belum pernah berpacaran, tapi ia pernah tahu sensasi kupu-kupu terbang dalam perutnya saat ia SMA. Deni, adalah laki-laki yang mengenalkannya pada sensasi semacam itu. Tapi kemudian, karena Lisa yang fasih menjaga hati dan mengantisipasi kemungkinan, ia akhirnya sedih sendiri saat tahu bahwa Deni berpacaran dengan Amel –sahabatnya. Dalam 29 tahun hidup Lisa, baginya laki-laki hanya ada dua (kecuali ayahnya): Deni yang ia kagumi dan Geri sahabatnya sejak kecil.

Novel ini memang ritmenya lambat, tapi hal itu wajar karena dalam kelambatan itu kita akan disuguhi empat angle berbeda. Dan mungkin, saya membaca novel ini di waktu yang tepat. Pasalnya, semalam saya menonton drama roman yang berjudul Love Comes Softly. Jadi telah sempat paham, langkah-langkah konflik dan maksudnya akan terlihat di ujung rangkaian cerita. Dan di ujung cerita, akan ada tiga pernikahan –kembali ke judul.

Dari karya Jane Austen sendiri, saya baru membaca karyanya yang Pride & Prejudice. Tapi hanya dari satu novel itu, saya sepakat dengan Ibu Sri. Kesaratan manner dan moral dari karya-karya Jane Austen hendak dimplementasikan sang Mama dalam membesarkan tiga anak gadisnya. Itulah mengapa, kerap dalam curhat anak-anaknya, sang Mama selalu mengambil contoh dari karya Jane Austen. Bahkan tak bosan meminta anaknya untuk juga membaca karya Jane Austen. Disinilah asbab novel ini juga terasa lucu. Bagaimana tidak, terlalu kebetulan semua konflik yang terjadi pada anaknya bisa diselesaikan dengan merefleksi novel-novel Jane Austen.

Atmosfer Jane Austen kadang kekentalannya terasa keterlaluan. Semua karakternya berada dalam ‘lingkaran Jane Austen’ Haha. Tapi tak perlu dipikirkan lah. Novel ini lovely, funny, and heartwarming. Belum lagi di tiap bab, di tiap pergantian angle, ada kutipan dari novel Jane Austen ditambah dengan puisi-puisi yang manis. Kok bisa ya, Mas Prima tidak terlihat canggung dan bahkan membuat tidak menyangka bahwa orang di belakang empat sudut pandang yang bercerita adalah seorang laki-laki. Dan satu lagi, terlihat sekali karakter-karakter dalam novel ini menyomot karakter Jane Austen. Bagusnya, sang penulis mampu membuat karakter mereka logis saat menghidupkannya ke dalam Emma, Meri dan Lisa.

Di samping typo yang cukup banyak, novel ini cukup mengalir dan cukup bisa dinikmati. Empat bintang yang saya beri  karena puisi-puisi manis dan lirik-lirik lagu romantis yang disertakan dalam novel ini. Juga karena antiklimaks yeng terjadi antara Lisa dan Deni. Ah, mungkin karena Deni merepresentasi Mr Darcy, which is, lelaki idaman kebanyakan perempuan yang menyukai Pride & Prejudice –termasuk saya ^^v

Dan, semoga bermanfaat. Selamat membaca~

9 thoughts on “#25 Three Weddings and Jane Austen

    • Then, u should.
      But to tell you first, her books may get you bored.
      Tebel2
      Aku sih baca smbil nonton film2 dr bukunya. Biar ga bosen dgn narasi JA yg panjang.

      Like

  1. unik yah..
    ada seorang ibu yang terobsesi dengan penulis novel.
    oo aku baru tau kalau jane austen ada filmnya
    mulai cari pinjeman dulu deh *nggak modal*
    hehehe

    Like

    • yg saya sendiri uda tonton: Pride & Prejudice versi amrik (Keira Knightley) dan Emma serial BBC (4 episode)

      saya juga direkomendasiin film The Jane Austen Book Club (and i’m looking for it)😀

      Like

  2. “Di samping typo yang cukup banyak, novel ini cukup mengalir dan cukup bisa dinikmati”

    Same problem. Tapi, cetakan kedua sudah diperbaiki. Saya malah dikirimin langsung oleh penulisnya, seneng banget…plus ada tanda tangannya. Penulisnya humble banget, bersedia menerima kritik dan langsung mengusahakan perbaikan.

    Meskipun belum pernah baca sebiji pun novel Jane, saya sudah mengoleksi ke-6 novelnya, berharap suatu saat bisa membacanya satu demi satu…:)

    Btw, saya pun suka dengan novel ini, apalagi puisi di tiap pergantian babak, love them!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s