#21 Catatan Cinta dari Mekkah

Judul Buku : Catatan Cinta dari Mekkah

Penulis : Awy Ameer Qolawun

Penyunting : Sirep Purwanti

Cetakan : I, Januari 2012

Penerbit : Zikrul Hakim

Tebal : 416 halaman

Tiga bintang (***)

Banyak hal dan pelajaran kehidupan yang bisa kita dapatkan, jika kita mampu mengaktifkan aplikasi tafakur dan aplakasi mau belajar dalam diri kita.

Mungkin itu kelebihan Awy, selalu bisa mengaktifkan sense of tafakur dalam kesehariannya. Mestinya, menurut saya sih, judul buku ini ‘Diary Awy’ saja. Karena kumpulan tulisan didalamnya benar-benar catatan harian Awy. Ditulis dengan gaya otobiografi sekali malah, menggunakan ‘aku’ sebagai sisi narasumber langsung. Tapi tak salah juga jika judul yang diambil adalah Catatan Cinta dari Mekkah, meski tidak keseluruhan tulisan mengenai Mekkah, kita tetap bisa mencicip nuansa Mekkah dari buku ini.

Untuk memudahkan, tulisan-tulisan dibagi ke dalam tema-tema yang diistilahkan ‘Momen’. Mulai dari Momen dengan para kakek, Momen belajar dari kejadian lucu, Momen menulis hingga Momen oleh-oleh dari musim haji. Awy akan mengajak kita menikmati momen tersebut dari ceritanya dan dari cara dia belajar atas tiap-tiap pelajaran kehidupan yang didapatkannya.

Awy adalah seorang Gus, anak ustadz. Sebuah kenikmatan tentunya, lebih karena lingkungan yang mendidiknya sangat kondusif bila menyangkut moral dan agama. Di awal buku, kita akan diajaknya berkenalan dengan kakeknya Awy yang keren. Gimana ngga keren kalau beliau berjalan dari Pacitan ke Mojokerto demi sebuah kitab fiqih! Bahkan, karena kitab tersebut saat itu merupakan kumpulan bundelan dan dua bundel ternyata tertinggal, Kyai Ali Sya’roni (kakeknya Awy) kembali berjalan dari Pacitan dan Mojokerto!

Itulah cerita pertama, Awy mengenalkan kita (dengan contoh langsung, sang kakek) tentang Himmah Aliyah. Kemauan yang tinggi. Sebuah modal yang fundamental untuk keberhasilan meraih mimpi dan kesuksesan.

Lalu dalam momen berikutnya, Awy mengingatkan kita tentang pentingnya ridho orangtua dalam menggapai ridho yang lebih penting: ridho Allah. Belum lagi, didikan orangtuanya yang membentuk Awy. Larangan menghidupkan televisi saat adzan berkumandang hingga penanaman yang benar bahwa harta dunia merupakan titipan.

Ceritanya, sepeda gunung Awy yang baru berusia satu hari mendadak raib. Awy sudah mengira ada yang mencurinya. Tapi Baba, ayah Awy, menenangkan bahwa sepedanya hanyalah dipinjam oleh saudaranya. Awy percaya saja kata Babanya, hanya sepeda itu benar-benar tak pernah muncul lagi. Tahukah? Dengan begitu sebenarnya sang Baba hendak menanamkan untuk tidak mudah suudzon (buruk sangka) juga agar ia tak Jaze’(terpukul kecewa) karena kehilangan benda. Lihat kan, Awy muda sudah dibentuk sedemikian oleh sang Baba.

Selanjutnya diari Awy ini, terasa agak runut peristiwanya. Ia ceritakan pengalaman aktifnya selama bersekolah. Keaktifan yang berbuah kepribadian pemimpin dalam dirinya. Awy ini anak pesantren, maka dalam buku ini kita akan familiar dengan kegiatannya sebagai dalam. Salah satunya tentang keniscayaan anak pesantren untuk turun mengaplikasikan ilmu dakwahnya ke masyarakat. Istilahnya, juru dakwah. Nah, dalam kisah turunnya ia sebagai juru dakwah, ia kebagian jatah untuk mengajar di ponpes putri. Kata Awy, sebagai ustadz muda belum beristri, tentu hal itu adalah cobaan. Cobaan bagi pandangan dan hati, sepertinya😛. Maka kita akan tahu ‘dosa’ Awy disini, bahwa ia pernah mangkir mengajar ke ponpes putri yang seharusnya dan justru lari ke toko buku! Yaah, terasa sih galaunya Awy kalau kita berada di posisinya. Hehe.

Begitu lah, beragam perasaannya terekam di sini. Serius, lucu, hingga haru. Dan dalam buku ini, satu tema Momen yang begitu berbekas bagi saya justru saat Awy tidak banyak menceritakan dirinya. Bukan maksud saya tidak menyukai ceritanya, bukan seperti itu. Tapi karena dalam bagian ini, Awy berhasil mengenalkan saya dengan sosok-sosok yang, MasyaAllah, kepribadiannya luar biasa. Bagian itu adalah Momen ‘belajar dari kisah nyata inspiratif’.

Kita akan diperkenalkan dengan seorang pemuda yang dijuluki Kang Siang-Malam. Tahu, kenapa? Karena pakaiannya siang malam, sama. Pemuda ini miskin, tapi ia bermimpi untuk bersekolah ke Mekkah. Ada juga Kyai Slamet. Dalam kegigihannya selama delapan tahun, ia berhasil menghapal 10 juz al-Qur’an, menulis dan membaca kitab berbahasa Arab. Ia memulainya dari nol dan dalam usia yang tidak muda, kawan! Atau tentang Pak Suwondo, yang diberi hidayah Allah. Perubahan 180 derajat, dari preman menjadi dai dadakan.

Makanya saya katakan, kisah-kisah ringan yang disampaikan Awy ini demikian fulfilling. Membasuh, juga ‘mengisi’. Bahkan kisah dari sakitnya Awy. Saat penyakit urinal disorder yang dimilikinya kambuh justru di detik-detik ia melaksanakan haji. Betapa ketika berserah diri kepada Allah, akan ada jalan untuk semuanya berjalan dengan baik.

Masih banyak kisah berhikmah lainnya dari catatan-catatan Awy ini. Hanya saja, ulasan saya sudah sepanjang ini dan spoiler sudah ada dimana-mana. Aasifun jiddan ya Awy. Tapi tenang teman-teman, bagian-bagian spoiler di ulasan ini tak seberapa. Karena dari buku setebal 416 halaman ini, kalian akan mendapat 100 catatan yang sangat beragam. Banyak banget, kan?

Sayang, bagian terakhir yang saya sebutkan -tebal 416 halaman dan 100 catatan-, juga menjadi kelemahan bagi buku ini. Desain buku yang panjang besar dan tebal, tak baik bagi psikologi pembaca yang tak sabaran. Menjadi tidak begitu efisien untuk dibawa kemana-mana. Belum lagi, untuk buku setebal itu, sampulnya terlalu tipis.

Selebihnya, kritik dari saya, ada pada jumlah endorsement. Saya termasuk yag tidak sreg dengan endorsement yang banyak pada sebuah buku. Endorsement not really a content at all, menurut saya. Bila sebuah buku memang bagus, ia akan bersinar sendiri kok. Saya juga berharap buku ini bersinar dengan caranya, tentu saja. Ngomong-ngomong, ada kalimat keren banget lagi dari Awy. Menulis, menempatkan diri dalam keabadian. Inspiratif buat kita-kita yang sedang belajar menulis. Sebenarnya itu salah satu judul momen dalam buku ini, tapi dari ulasan di atas belum saya ceritakan. Nanti lah ya, teman-teman sendiri yang membacanya langsung dari buku ini😛

Baiklah, thats it ulasan dari saya, semoga bermanfaat.

Selamat membaca~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s