#4 Toto-chan’s childrens

Selain karena saya menyukai buku Toto-chan yang pertama, buku ini di-display sebagai 10 buku best seller saat itu. Iya, saat membelinya, saya termakan rekomendasi dari toko buku mumpuni itu. Buku ini sama-sama merupakan penuturan dari Tesuko Kuroyanagi, perempuan bernama-kecil toto-chan itu. Bila buku pertama berkisah mengenai ia dan sekolahnya yang ‘berbeda’ saat itu, yang berlatar masa perang di Jepang. Buku ini lebih bertutur lanjutan kisahnya yang pada tahun 80an hingga 90an dimana dia menjadi representasi UNICEF dan menjelajah daerah konflik dibanyak belahan dunia untuk misi kemanusiaan bagi anak-anak.

Negara-negara yang dikunjunginya sebagian besar adalah negara-negara benua Afrika, selebihnya merupakan negara-negara Asia Tenggara. Berlangsung dari tahun 1985-1996, total tiga belas negara konflik yang ia kunjungi. Kondisi anak-anak dinegara-negara tersebut bermacam-macam. Satu garis besar yang membuat mereka sama adalah kondisi mereka yang menyedihkan. Kebanyakan mereka korban perang, tidak terurus kesehatannya, mentalnya terganggu, sebagian dari mereka meninggal akibat genosida rezim zalim, banyak yang terlahir cacat. Tapi dari sekian banyak jumlah mereka dengan kondisi menyedihkan tersebut, masih tercipta mimpi dibenak mereka. Meski mimpi tersebut hanya semisal ‘aku ingin hidup’, ‘aku ingin bisa bersekolah’, dan beberapa mimpi sederhana lainnya.

Buku ini dilengkapi dengan foto-foto ‘apa-adanya’ yang menggambarkan kondisi sesungguhnya di lapangan. Foto-foto anak-anak yang menderita malnutrisi, busung lapar, anak-anak kelaparan mengantri jatah makanan dibawah terik suhu 49 derajat celsius, foto malu-nya seorang anak yang menderita hidrocepalus karena dilihat dengan pandangan iba, foto seorang bayi yang mungil sekali (dengan kulit keriput, tulang tampak jelas dan beratnya segenggaman tangan saja). Miris sekali melihatnya, saya bahkan tidak kuat lama-lama memandangi dokumentasi perjalanan toto-chan.

Meski kemalangan demi kemalangan tersebut berlangsung beberapa dekade lalu, tetapi menyadari bahwa pernah ada fakta-fakta menyedihkan bagi kemanusiaan seperti itu rasanya sesak sekali, benar-benar memojokkan kantung tangis dan sendu.

“Miss Kuroyanagi, saat Anda kembali ke Jepang, ada satu hal yang saya ingi Anda ingat: orang dewasa meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka, tapi anak-anak hanya diam. Mereka mati dalam kebisuan, dibawah daun-daun pisang, mempercayai kita, orang-orang dewasa.” (kepala suku desa tak bernama di Tanzania)

Sedikit atau banyak, demi kepentingan atau bukan, peperangan selalu membuahkan perih dan kesakitan. Dibuku ini juga ditampilkan beberapa negara yang menjadi daerah konflik akibat perang saudara. Suku yang satu membunuh suku yang lain. Anak-anak bahkan mengenali sesiapa saja yang membunuh keluarga mereka. Dendam yang akhirnya berantai dan sulit usai.

“Manusia tidak dilahirkan untuk saling membenci, manusia dilahirkan untuk saling mengasihi..”

Maka rasa-rasanya, bila disekitar kita sedikit saja ada beberapa bentuk kasih-sayang, itu adalah kenikmatan. Melalui buku ini, saya belajar menghargai (bahkan) kondisi aman-nyaman yang lebih sering datang. Tetapi juga melalui buku ini, saya dibantu memahami psikologis orang-orang yang berada dalam lingkaran mencekam sembari sellau berucap syukur karena kondisi lingkungan dan psikologis saya masih lebih baik.

Ah, kenyataan bahwa sampai saat ini peperangan, pembersihan etnis, perang saudara, penjajahan masih saja berlangsung dengan bentuk-bentuk yang ‘terkemas samar’ semakin membuat hati rasanya tidak berdaya. Benarlah itu kedamaian adalah kondisi keberjayaan bagi kemanusiaan. Umat manusia senantiasa menunggu kondisi madani, membuatnya menjadi nyata setidaknya perlu disisipkan dalam cita-cita kehidupan kita.

** originally posted on March 7, 2011. Here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s