#11 Perjalanan Bu Aminah

Kamis lalu, saya pergi ke perpus UI. Demi mencari Aceh Sepanjang Abad, buku klasik yang terdiri dari dua jilid, direkomendasikan seorang teman. Dalam mesin pencarian, dikatakan bahwa jilid 1 tersedia. Tapi ketika dicari-cari, buku itu tak kunjung ditemukan. Hingga akhirnya, saya menelusur rak-rak buku lain. Secara acak memindai buku untuk dibaca. Dan sampailah saya di rak buku-buku koleksi perpus FIB UI yang kebanyakan tentang sastra dan karya fiksi. Saya ambil dua buku kumpulan puisi dan dua novel fiksi. Satu dari dua kumpulan puisi yang saya ambil, adalah buku ini, yang berjudul Perjalanan Bu Aminah karya Rendra.

Saat menelusur tokobuku, saya kadang menemukan buku biografi Rendra. Sedang tahu harumnya nama Rendra, tetapi belum baca karyanya. Ini bukunya yang pertama saya nikmati. Dan saya menyukainya! Benar-benar menyukainya. Rendra memang sastrawan yang lahir secara natural. Tidak berlebihan tetapi bersinar. Bahasa yang dipakai dalam syairnya, tidak perlu vulgar. Tidak seperti sastrawan (atau yang mengaku sastrawan) jaman sekarang. Yang menggunakan diksi lebih dari yang diperlukan, yang meski wajar demi memperkaya, tapi tidak memudahkan dalam menikmati sajak-sajaknya. Rendra dan syair-nya, tidak terlihat sok.

Sementara buku ini, kumpulan puisi ini, tipis saja. Maka ini buku habis baca sekali duduk saat itu juga di perpus UI. Dalam beberapa sajaknya dibuku ini, dibuatnya atas kenyataan perang yang memilukan. Kemanusiaan yang diantarkan Rendra dari satu-dua sajaknya begitu terasa.

Kini jiwaku bersujud kepadaMu:
Lindungilah kesadaranku, agar dalam kemarahan ini aku tidak kehilangan rasa keadilan dan perikemanusiaan. Aku bertekad untuk solider dengan perjuangan Kaum Muslim di Bosnia yang melawan kezaliman, tetapi aku mohon bimbinganMu agar aku bisa melakukan perlawanan tanpa melakukan kekejian dan kekejaman yang bertentangan dengan firman kitab suci-Mu

Yaa Allah Yang Maha Bathin
Alangkah susahnya menderita cinta yang bercampur dengan kemarahan;
Memprihantinkan keadilan sambil tersiksa dan terhina

Selebihnya, Rendra mengangkat masalah-masalah sosial. Dalam puisi berjudul Doa di Jakarta, dan puisi berjudul sama dengan yang ada di halamanmuka: Perjalanan Bu Aminah. Bu Aminah yang dikerjai oleh kenyataan yang edan! Perjalanannya tak mudah, tidak juga memudahkan pencariannya atas adiknya. Mengajak untuk mengetahui rupa manusia yang bisa memiliki 1000 topeng yang –saat kita tahu- bisa sangat mengecewakan hati. Duh, manusia!

Semoga saya bisa membaca karya-karya Rendra yang lain.
Bila ada rakan yang mengoleksi karya-karya Rendra, bisa pinjami saya? :-)

Semoga ulasan tak penting ini, bermanfaat.
Selamat Membaca :-)

** originally posted on January 14, 2012. Here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s