#12 Meraba Indonesia

“Menulis Indonesia bagaikan mengisahkan sekelumit misteri yang rumit sekaligus menantang. Tak ubahnya mengupas sebiji bawang. Lapisan demi lapisan menguak sejarah, namun begitu terkuak, mata kita perih karenanya. Tapi, biarlah mata ini perih. Yang terutama adalah saya berusaha mengelupasi lapisan-lapisan”.

–Ahmad Yunus, halaman 19 buku Meraba Indonesia

Dalam film dokumenter Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, pelengkap buku Meraba Indonesia, Farid Gaban menjawab alasan ekspedisi yang dilakukannya dengan ahmad Yunus ini dalam rangka mengkonfirmasi kekayaan alam dan manusia Indonesia. Maka, sebagai pembaca, yang juga orang Indonesia, saya secara pribadi berterimakasih. Konfirmasi ini sampai bahkan kepada saya, dan pembaca lainnya, yang belum berkesempatan menjelajahi Indonesia. Konfirmasi semacam ini, kerja keras dan kerja yang patut diapresiasi. Demi apa sih, melakukan perjalanan yang sedemikian melelahkan, menguras pikiran, badan dan kekayaan? Demi mengenal lebih dekat, demi mencintai Indonesia dengan pengetahuan yang utuh. Demi mencintai Indonesia meski dengan terlebih dahulu merasai perihnya.

Benarlah, yang dikatakan Yunus, membaca catatan perjalanan ini saja rasanya tak jauh beda dari sensasi mengupas bawang. Ternyata Indonesia, jadi Indonesia begitu, dan lainnya. Perasaan berdesir dan sedih bersamaan. Seumpama mengupas bawang!

Dari catatan perjalanan ini juga, saya belajar nasionalisme dalam rupa lain. Sama sekali jauh dari euforia nasionalisme yang serempak meruak gara-gara tersinggung kekayaan budaya kita duga di-plagiat. Atau nasionalisme yang bentuknya saru, yang meruak dari mendukung timnas sepakbola kita untu menang dalam laga melawan timnas negeri lain. Melihat rupa nasionalisme yang seperti itu, bahkan rasanya rupa semacam itu masih terlampau dangkal. Cobalah tengok nasionalisme penduduk Indonesia di pulau-pulau terluar. Yang diseru oleh Presiden kita untuk menjaga garis terluar Indonesia tapi terabaikan. Kesulitan sendiri dalam menyejahterakan diri dan sekitarnya. Diminta ‘menjaga’ tapi dirinya tidak ‘dijaga’ dengan baik. Nasionalisme yang mereka miliki lah “nasionalisme yang sudah teruji” (Indonesia di tepi pasifik; Miangas)

Maka saya bisa lebih memahami alasan-alasan separatis beberapa daerah. Tapi didaerah terluar itu pun, mati-matian mereka berusaha tetap menggunakan bahasa Indonesia, melakukan perniagaan dengan kekayaan Indonesia meski dalam kesulitan. Mengabaikan kemudahan melakukan perniagaan sehari-hari yang ditawarkan negara tetangga. Bisa kah kita, penduduk Pulau Jawa, memahaminya? Memahami kebertahanan mereka?

Buku ini juga tentang cerita orang-orang Indonesia. Tentang sejarah dan kisah. Bisa sangat memilukan. Bisa sangat memprihatinkan. Tetapi itulah wajah Indonesia. Mari kembali bersyukur, kita diajak bertumbuh dengan belajar dari hal yang tak melulu menyenangkan tapi juga dari hal yang tidak menyenangkan. Bisa kah kita lebih arif, setelah ini?

Hati saya terus menerus berdesir membaca bagian tengah hingga akhir buku ini. rasanya gegap. Ingin juga ikut-ikutan mengkonfirmasi sendiri. Ingin mengenal Indonesia lebih dekat. Dan memaknai nasionalisme tidak hanya dengan ungkapan termudahnya. Ingin ke Teluk Kiluan, ingin ke Banda, ingin ke Pulau Kakaban yang evolusinya (secara sains) begitu rumit. Ahh, semoga tersampaikan.

Secara penuturan, saya menikmati sajian tulisan jurnalisme sastrawi macam yang dibawakan Yunus ini. Mengalir, sederhana dan jujur. Kalian pun, akan menyukainya. Tentu saja. :-)

Semoga ulasan ini bermanfaat.
Selamat Membaca.

** originally posted on January 18, 2012. Here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s