#16 Madre

Madre adalah setoples biang roti, yang telah berusia puluhan tahun. Sepeninggalnya Tuan Tan, Madre menghampiri Tansen. Tansen adalah yang terpilih, karena Madre ada dalam satu ‘garis darah’ dengannya. Yang pangkal nasabnya ada pada Laksmi, nenek Tansen.

Dihadapkan pada  Madre, Tansen bingung. Seems like a joke of his life, seketika sejarah hidupnya dijelaskan bersama dengan keberadaan Madre. Dalam sepeminuman kopi pula, hidupnya yang bebas akan menemui ujungnya. Lalu ia menjadi pembuat roti? Meneruskan Tan de Bakker? Bertemu secara impulsif dengan Mei, dan bertemunya Cina-India berulang di generasi ketiga?

Carilah jawabannya dalam novel ini.

duh kenapa saya malah membuat tulisan yang gantung-tanggung begini? kayak ngiklan ^^v

Baiklah, kembali mengulas buku ini. Anak Dee ini adalah kumpulan cerita. Bukan kumpulan cerpen. Karena didalamnya ada beberapa prosa. Prosa yang bercerita, tentu saja. Saya membaca anak Dee yang lain, serial Supernova. Dan dari tiga buku Supernova yang telah saya baca sebelumnya, ditambah buku ini, sensasi bahwa Dee selalu bisa memunculkan kejeniusannya melalui tulisan-tulisannya. Dan terasa wajar lah bila penggarapan karyanya bukanlah hasil yang dikerjakan dalam jarak yang rapat, bukan dalam waktu yang cepat. Karena rasa dari karyanya selalu kaya. Berwawasan tapi tidak dipaparkan dengan sok tahu.

Madre, cerpen yang menyenangkan tentang pilihan Tansen dalam melepaskan ikatan kebebasannya untuk hidup bersama Madre dan menjadi Pembuat Roti. Lalu Have You Ever, cerpen tentang impulsifnya seorang Howard yang dimulai oleh sensasi surat Cahaya yang dibacanya. Spiritual sensation? (sebenarnya) Saya tidak bisa jelas mengerti cerita ini bahkan hingga ujung cerita ini selesai. Tapi saya ikutan lega, saat akhirnya Howie merasa jiwanya kenyang usai ‘bertemu’ Bintang Selatan. Rimba Amniotik, yang sangat keibuan, sajak yang dibuatnya saat mengandung Atisha. Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan, sebuah jawaban dari Dee untuk pertanyan Apa itu Cinta? Apa Itu Tuhan?. Menunggu Layang-layang, tentang layang-layang yang berubah menjadi lele? :-P

Karya-karya Dee, selalu mengesankan. Meninggalkan jejak, kadang juga pertanyaan. Kadang karyanya layak diseriusi, tapi tak mengapa bila sambil lalu. Toh, cara menikmati bacaan oleh tiap pembaca, berbeda-beda. Dan bagi saya sendiri, saya ingin belajar banyak dari karyanya Dee. Tak hanya Madre. Ah sepertinya, saya akan mengincar Madre dan ingin menyimpannya sebagai koleksi bacaan saya. Meski kali ini, status Madre yang ada pada saya adalah milik tetangga sebelah (baca: akuaisemangka.multiply.com).

Begitulah, teman. Selamat membaca :-)

** originally posted on March 12, 2012. Here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s