#14 Kaidah Terbang Lebah

Kaidah terbang lebah adalah satu judul dari 29 tulisan dari kolom kamisan Hasan Aspahani, yang mungkin diunggulkan, hingga menjadi judul di halaman muka buku ini. Tulisan berjudul sama ditaruh di tulisan ketiga dalam buku ini. Isinya? Tentu saja tentang lebah. Betapa lebah memiliki pola kehidupan yang banyak memberi hikmah bagi manusia.

Oleh Hasan, kita diingatkan beberapa hal dari lebah. Pertama, lebah bukanlah lalat yang hidup di lingkungan kotor. Hidup di tempat yang baik, menghasilkan juga yang terbaik. Kedua, seperti lebah, kunjungilah tempat-tempat yang baik. Ingat, lebah terbang dari bunga ke bunga untuk mengambil sari madunya. Ketiga, lebah hidup rukun dalam sau koloni dan patuh pada lebah ratu. Demikian kita yang hidup bermasyarakat perlu patuh pada pemimpin kita. Keempat, lebah taat pada pembagian kerja. Ada yang membuat sarang, mencari adu dan ada yang menjaga sarang dan juga ratu. Patutnya kita, untuk tidak merampas wilayah peran orang lain. Kelima, lebah memiliki sengat. Tapi sengat tidak digunakannya sembarangan. Lebah hanya akan menyerang bila koloninya terancam. Lihatlah, betapa lebah tidak bertindak untuk kepentingan pribadi.

Secara anatomi pun, kata Hasan, lebah adalah serangga yang mampu terbang menentang angin kencang. Ukuran sayapnya kecil, dan cara lebah mengepakkan sayapnya tidaklah umum semisal yang dilakukan serangga lain. Gerakan sayap mereka pendek melengkung. Yang menakjubkan adalah bahwa lebah mengepakkan sayap lebih cepat. Bila serangga umumnya mengepakkan sayap 200 kepakan per detik, lebah menggerakkan sayap 240 kepakan per detik!

Itulah kaidah terbang sang lebah, sayap kecilnya bukan kutukan. Dan kecepatan mengepakkan sayap sang lebah menandakan bahwa keterbatasan hanya perlu diatasi dengan kerja yang lebih keras, lebih gigih!

Itu baru satu tulisan dalam buku ini. Menarik bukan? Kumpulan kolom kamisan ini dibagi menjadi lima bagian. Enam tulisan dalam bagian berjudul Etos. Delapan tulisan dalam bagian berjudul Dedikasi. Enam tulisan dalam bagian berjudul Militansi. Lima tulisan dalam bagian berjudul Empati. Dan empat tulisan terakhir dalam bagian berjudul Sikap.

Bagian yang saya suka, dari buku ini adalah bagian Dedikasi dan bagian terakhir, Sikap. Dalam bagian dedikasi, beberapa tulisannya mengulas tentang Rendra, Sapardi dan tentunya sedikit banyak tentang sastra –yang juga menjadi dunia seorang Hasan Aspahani. Dalam tulisan berjudul Bersebati dengan Bumi – Berserah pada Sejarah, Hasan membahas kepenyairan Acep Zamzam Noor. Penyair generasi awal yang belum pernah saya tahu sebelumnya. Tentang kontribusi setianya, 28 tahun membuat sajak!

Yang lebih menarik lagi, membuat saya senyum-senyum saat membacanya, adalah tulisan berjudul Bersama Ca, SDD, SCB, dan GM. Ini tentang Hasan yang mewawancarai empat penyair penting yang dimiliki Indonesia. Penuturannya biasa saja. Menarasikan pengalaman wawancaranya dengan menyertakan dialog yang memang benar-benar terjadi. Yang mengasyikkan adalah pembiaran obrolan antar empat penyair diatas, yang terasa akrab. Asyik disimak. Seperti sedang menyaksikan mereka berempat berbincang secara langsung. Ah, penyair memang begitu, kenormalan mereka kadang terasa anomali. Selalu unik!

Lalu tulisan terakhir dalam buku ini, yang juga saya sukai. Saat Hasan menceritakan tiga orang dalam kehidupannya. Yang dikenalnya terlebih dahulu sebagai sahabat pena. Tiga orang rendah hati dengan pengalaman hidup yang sangat memberikan pelajaran. Orang pertama seorang seniman yang besar dalam dunia teater, dan kehidupannya bahkan layaknya teater: dramatis. Orang kedua, seorang pemuda yang menyukai sastra yang belajar menjadi penyair tapi mesti fokus dalam bisnis fesyen. Bersabar dalam kesenangannya meski ditentang orang terdekatnya. Berjalan dalam dua wilayah yang terasa ganjil saat disatukan. Orang ketiga, seorang Community Manager Yahoo Asia, yang jalan kehidupanya juga unik!

Awal membaca buku ini, saya memang tidak begitu antusias. Kenapa juga berminat membacanya? Karena saya pengikut Hasan Aspahani di twitter dan ingin tahu lebih tentang penyair yang wartawan itu. Untuk kategori kolom umum, kumpulan kolom ini cukup menyenangkan untuk dibaca. Cukup meluaskan wawasan. Tapi bila saya membandingkan dengan kumpulan tulisan Herry Nurdi, saya akan lebih memilih kumpulan tulisan Herry Nurdi –Living Islam. Ah, keduanya tidak bisa diperbandingkan sebenarnya. Kacau deh saya -.-a *abaikan

Baiklah, semoga ulasan ini bermanfaat. Selamat membaca :-)

** originally posted on February 1, 2012. Here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s