#18 Filosofi Kopi

Dulu sekali, dua tahun yang lalu, satu dua cerita dalam buku ini telah saya baca. Satu dua cerita tersebut, saya baca di perpustakaan kampus, dalam waktu yang ringkas. Sembari dalam hati menandai akan meneruskan kumpulan cerita Dee ini. Tapi ternyata, saya tidak berhasil menuntaskannya.

Lalu beberapa waktu belakangan ini, saya mendapatkan ebooknya. Sayang, ebooknya pun tak berhasil saya selesaikan. Dan bersama Madre, saya meminjam Filosopi kopi. Menuntaskan cerita yang terlanjur mulai dibaca.

Cerita utama, Filosopi Kopi, saya lewatkan. Saya masih ingat Ben, masih ingat dengan warung kopinya yang menyediakan beragam jenis kopi dengan filosofinya. Saya juga ingat filosofinya tentang cappucinno: untuk orang yang menyukai kelembutan dan keindahan. Filosofi yang membuat saya mengangguk-anggukan kepala, tanda sepakat.

Tapi membaca Madre terlebih dahulu, dibanding Filosofi Kopi kemasan terbaru ini, membuat saya menyadari beberapa hal. Satu dua cerpen Dee, terasa tipikal. Che dan Starla dalam ‘Menunggu Layang-layang’ (Madre) layaknya Egi dan Tio dalam ‘Sikat Gigi’ (Filosofi Kopi). Ada kemiripan, entahlah. Hal lain yang juga saya sadari adalah, entah mengapa, satu dua cerita dengan tampilan implisitas yang tinggi, semisal Have You Ever (Madre) dan Kue Kuning (Filosofi Kopi) terasa membingungkan tapi Dee selalu berhasil membuat kita menikmati implisitas yang disertakannya.

Dan sekali lagi, setelah Madre, bagian dari kumpulan cerita Dee ini yang paling saya nikmati adalah prosa-prosanya. Pada Madre, saya sangat menyukai ‘Rimba Amniotik’, ‘Wajah Telaga’, dan ‘Barangkali Cinta’. Prosa yang terasa mengalir bersama pesan yang dalam. Pada Filosofi Kopi, saya merasakan hal demikian pada ‘Salju Gurun’, ‘Kunci Hati’, ‘Jembatan Zaman’, ‘Kuda Liar’, ‘Spasi’, dan ‘Cetak Biru’. Eh, saya menyebutkan sebagian besar prosa-prosa yang ada dalam Filosofi Kopi ^^v.

Cerita Lara Lana, yang ternyata adalah cerita tentang cinta sejenis? Buddha Bar, yang sama sekali susah saya mengerti. Lalu Rico de Coro, yang sebenarnya jenaka, tapi saya tidak menikmatinya. Sama seperti saya yang kurang menikmati supernova –Petir. Tapi secara keseluruhan, tetap saja saya akan memberikan empat bintang untuk buku ini. Untuk karyanya yang selalu memesona. Karyanya serupa gadis yang sudah cantik, otaknya berisi pula. Kalimat indahnya bisa memanjakan mata dan menyisipkan sejuk dalam hati. Dan dalam waktu bersamaan memberi asupan kedalam pikiran. Dalam kasus saya, yang begitu memberi asupan ya prosa-prosanya.

Cinta butuh dipelihara. Bahwa didalam sepakterjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta jangan terlalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkannya –entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan disetiap langkah kaki, merekatkan jemari dan berjalanlah kalian bergandengan… karena cinta adalah mengalami.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan Cuma maskot untuk disembah sujud.

-Surat yang Tak Pernah Sampai, halaman 44 buku Filosofi Kopi.

Semoga ulasan ini bermanfaat. Selamat membaca :-)

** originally posted on March 16, 2012. Here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s