#15 Celana Pacar Kecilku Di Bawah Kibaran Sarung

Bila bukan karena buku ini ada ditumpukan buku-buku yang diobral, mungkin saya tidak akan membelinya. Karena sebelum ini saya tidak berhasil meyakinkan diri bahwa kumpulan puisi itu termasuk ‘worth to buy’. Semoga saya tidak menyinggung para penikmat sajak, karea alasan dibalik itu lebih karena perhitungan biaya dan manfaat.
Ada pun tiga bintang yang saya sematkan pada tiga kumpulan puisi yang disajikan dalam satu buku ini, mungkin kurang. Karena sesungguhnya Joko Pinurbo punya ‘jejak’nya tersendiri didunia sastra, sedang penilaian tiga bintang tadi semata pertama kali saya membacanya.

Dari membaca kumpulan sajak didalamnya, saya suka sajaknya yang selalu bercerita. Diksi-diksi sederhana namun kuat. Tidak membuat pusing, sebenarnya. Tapi tetap saja saya tidak bisa sepenuhnya yakin bahwa saya menangkap apa yang sebenarnya hendak JokPin sampaikan, karena keterbataan saya pribadi dalam persajakan.

Kata-kata adalah kupu-kupu yang berebut bunga,

adalah bunga-bunga yang berebut warna,

adalah warna-warna yang berebut cahaya,

adalah cahaya yang berebut cakrawala,

adalah cakrawala yang berebut saya.

Apa memang, tiap penyair itu mesti memperlihatkan keintimannya dengan kata-kata? Saya menemukan hal itu pada bait diatas dan pada sajak Patroli. Juga pada sajak berjudul Kurcaci ini:

Kata-kata adalah kurcaci yang muncul tengah malam

dan ia bukan pertapa suci yang kebal terhadap godaan.

Kurcaci merubung tubuhnya yang berlumuran darah

sementara pena yang dihunusnya belum mau patah.

Dari tiga kumpulan puisi yang ada, saya menyukai kumpulan puisi yang menjadi bagian ‘di Bawah Kibaran Sarung’. Diawal tidak lagi menceracau tentang celana, dan didalamnya mulai terasa puisi-puisi protes sosialnya. Mulai dari sajak Tubuh Pinjaman yang terasa getir, sajak Perahu yang menceritakan Y.B.M dan sisi humanisnya, hingga sajak Kacamata yang mungkin –bisa jadi- menyindir ia dan penyair-penyair terdekatnya. Tapi, dari bagian ini saya paling suka sajak Surat Malam untuk Paska


Masa kecil kau rayakan dengan membaca.

Kepalamu berambutkan kata-kata.

Pernah aku bertanya: “Kenapa waktumu kau sia-siakan dengan membaca?”

Kau jawab ringan: “Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata yang memecahkan diri

menjadi tetes air hujan yang tak terhingga banyaknya.”

Kau memang suka menyimak hujan, bahkan dalam kepalamu

Ada hujan yang meracau sepanjang malam.

 

Itulah sebabnya, kalau aku pergi belanja dan bertanya minta oleh-oleh apa,

Kau cuma bilang: “Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius maupun yang ringan .

Jangan bawakan saya rencana-rencana besar masa depan.

Jangan bawakan saya kecemasan.”

 

Kumengerti kini: masa kanak adalah bab pertama sebuah roman yang sering luput dan tak terkisahkan,

kosong tak terisi, tak terjamah oleh pembaca, bahkan tak tersentuh, oleh penulisnya sendiri.

 

Sesungguhnya aku lebih senang kau tidur di tempat yang bersih dan tenang.

Tapi kau lebih suka tidur diantara buku-buku, berkas-berkas, yang berantakan. Seakan mereka mau bicara:

“Bukan kau yang membaca kami, tapi kami yang membaca kau.”

Kau pun pulas. Seperti halaman buku yang luas.

Dalam kepalamu ada air terjun, sungai deras di tengah hutan.

Aku gelisah saja sepanjang malam, mudah terganggu suara hujan.

(1999)

Mungkin saya suka sajak ini karena iri dengan Paska atau karena sajak ini tentang tergila-gila oleh buku? Entah.
Lebih dari itu, sajak-sajak lain tak kalah asyik buat saya, kecuali sajak-sajak yang melulu menghadirkan celana, ranjang, dan kamar mandi. :-)

 

** originally posted on February 10, 2011. Here.

4 thoughts on “#15 Celana Pacar Kecilku Di Bawah Kibaran Sarung

  1. saya juga sedang membaca buku ini
    pelan-pelan sih, karena baca kumpulan puisi harus moodnya cocok.
    salam kenal ya
    sila berkunjung ke blog saya di blogbukuhelvry.blogspot.com

    Like

  2. Pingback: Baju Bulan | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s