#13 Botchan

Dalam pengantar penerjemah, dikatakan bahwa novel ini menduduki posisi penting dalam sastra Jepang. Padahal jujur, novel ini sederhana saja. Masih dalam pengantar penerjemah, tidak ada ide besar dalam novel ini. Tapi daya tariknya ada pada sikap ksatria Botchan dalam menghadapi konflik-konflik yang ada dalam cerita.

Baiklah, siapa Botchan? Hingga akhir cerita, tidak disampaikan nama asli Botchan. Botchan pun adalah panggilan yang hanya dia, tokoh Aku, dapatkan dari pengasuhnya yang bernama Kiyo. Masa kecil Botchan hanya dihadirkan dalam 2 bab awal novel ini, jadi ini sama sekali tidak seperti Totto-chan. Menariknya, karakter Botchan menjadi sangat sarat terasa sejak awal. Botchan, seorang anak yang ceroboh, selalu berterus terang, tipikal anak yang bandel dan tidak patuh. Sikapnya yang seperti itu membawanya ke dalam masalah demi masalah. Kedua orangtuanya hilang harapan terhadap Botchan. Ayahnya tidak pernah menunjukkan kasih sayang padanya dan Ibunya selalu lebih memihak kakak laki-lakinya. Kakak laki-lakinya menyumpahinya sebagai anak celaka, menganggap Botchan lah penyebab kematian Ibunya.

Yang mempercayainya hanya Kiyo, pengasuhnya. Yang selalu menenangkan hati Botchan dengan berkata,”Kau selalu berterus terang, sifatmu baik,”; “Kau tidak egois, kau memang anak baik.” Atau ketika ia berselisih dengan kakaknya yang menjadi anak kesayangan, Kiyo justru meyakinkan Botchan bahwa kelak justru Botchan yang akan sukses dalam kehidupan dan menjadi orang besar. Apa yang dilakukan Botchan, akan selalu dipuji Kiyo. Dalam keadaan apapun, Kiyo akan ada disisi Botchan.

Hingga satu kali, lepas kelulusan Botchan dari Sekolah Ilmu Alam, ia ditawari untuk menjadi pengajar matematika Sekolah Menengah di Shikoku. Dan sebagian besar novel ini, mengambil kisah kehidupannya disana.

Seperti Botchan yang hanya merupakan julukan, tanpa diberitahu nama aslinya oleh penulis, karakter kunci yang lain pun mengalir hanya dengan julukan. Seperti si kepala guru ‘Kemeja Merah’, kepala sekolah ‘Tanuki’, dan perempuan cantik ‘Madonna’. Atau beberapa yang lain, dengan nama, tetapi tetapi dipanggil secara julukan oleh Botchan. Yakni Yokoyama ‘si Badut’ dan Koga ‘si Labu’.

Sebagai guru baru, Botchan kerap dikerjai. Diperolok oleh murid-muridnya. Puncak dikerjai saat ia kedapatan tugas berjaga malam di asrama sekolah. Dikerjai begitu, botchan bukan tipikal guru yang bijak, kebiasaan berterus terang yang dimilikinya semakin dominan. Memang dijelaskan bahwa ia memiliki kesabaran yang pendek sehingga ia tetap marah-marah dan membawa kasus itu ke rapat guru. Di sisi lain, konflik demi konflik menyertakan satu karakter, yakni si Kemeja Merah. Mulai dari merebut tunangan Koga, si Madonna. Menjadi andil utama dalam mutasi Koga ke Nobeoka, sebuah daerah terpencil yang digambarkan penduduk manusia dan kera jumlahnya berimbang. Terjerumusnya Botchan dan Hotta dalam tuduhan menjadi pemimpin perkelahian antara dua sekolah hingga Hotta akhirnya diminta mengundurkan diri.

Klimaksnya, tentu saja masih berkaitan dengan si Kemeja Merah, Botchan dan Hotta memergoki si Kemeja Merah dan si Badut bermalam di pemandian airpanas bersama geisha langganannya. Botchan dan Hotta yang memang tidak mampu menanggapi kelicikan si Kemeja Merah dengan strategi yang lebih terhormat, akhirnya berkeyakinan bahwa berkelahi dengan si Kemeja Merah dan si Badur adalah jalan terakhir yang bisa ditempuhnya.

Anti klimaksnya, Botchan (bersama Hotta) memilih meninggalkan Shikkoku. Botchan kembali ke Tokyo dan hidup bersama Kiyo. Kehidupan yang menurutnya lebih baik dari tinggal di Shikkoku sebagai pengajar matematika sekolah Menengah, namun menghadapi manusia-manusia yang menurutnya anomali.

Soseki berhasil membuat satir sosial, tanpa perlu berlebihan. Saya menyukainya. Apalagi gayanya yang memilih sebagai sudut pandang pertama yang menyebabkan penceritaannya akan tokoh-tokoh lain terkendali. Terjelaskan tanpa mengungkap banyak-banyak. Pas.

Saya menyayangkan akhir cerita. Hanya seperti itu? Padahal saya ingin tahu kehidupannya setelah kembali ke tokyo dan kembali hidup bersama Kiyo. Saya kira, penting sekali kisah tentang Kiyo mendapat porsi yang lebih. Meski sepanjang cerita Botchan, Kiyo semacam malaikat pelindung yang selalu disebut-sebut. Tetap saja saya ingin tahu lebih tentang Kiyo yang baik hati.

Soseki berkali-kali menekankan karakter Botchan, yang luput saya ulas disini. Dan itulah yang saya sukai. Mau tahu lebih lanjut? Sila baca buku setebal 217 halaman ini. semoga ulasan saya ini bermanfaat. Selamat membaca

** originally posted on February 1, 2012. Here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s