#2 Allah, Kokohkan Kaki-kaki Kami Di Jalan-Mu

Buku ini adalah satu dari beberapa buku yang saya beli di stand tarbawi-press tepatnya pada IBF tahun lalu. Jadi buku ini hampir berumur satu tahun dalam tangan saya. Tapi, alhamdulillah kemarin bisa saya selesaikan. Bukan perkara ketebalan buku, tentunya. Karena buku ini hanya setebal 323 halaman. Tapi mungkin lamanya saya membaca buku ini lebih diakibatkan kebiasaan saya yang multi-reading. Dengan kebiasaan multi-reading itu, saya biasa membaca beberapa buku berbeda judul dalam kurun waktu bersamaan.

Selain itu, konten dari buku yang diangkat ini pun tidak merupakan alur-mutlak yang perlu dibaca secara runut. Sehingga dalam membaca buku ini, saya menyesuaikan kondisi dan kebutuhan materi bacaan. Saya membacanya dengan jeda-jeda. (kelihatan banyak beralasan ya? Hee)

Apa kata yang tepat buat saya memberi endorsement kepada buku ini ya? Buat saya buku ini bagus sekali. Reflektif menggugah khas hasil tari-jari ust.Lili nur aulia selalu menjadi favorit saya, selalu pas untuk dimasukkan dalam list buku-buku yang bersifat tazkiyatun-nafs. Nah, memang itu, ust. Lili nur aulia merupakan tokoh penulis yang saya idolakan disamping karya ust.anis matta dan ust. Salim a fillah. Alasan tambahan lagi buat saya menyukai buku ini adalah bahwa buku ini adalah terbitan tarbawi-press. (koleksi buku saya banyak terbitan tarbawi-press)

Nah, bagaimana dengan isinya? Buat sahabat sekalian yang juga langganan membaca majalah tarbawi, maka buku ini saya gambarkan serupa kumpulan tulisan-tulisan ust.lili nur aulia dalam rubrik ruhaniyat. Buku ini terdiri dari 56 tulisan yang dirangkum dalam sembilan bab yang temanya berbeda-beda. Buku ini kaya sekali hikmah dari perjalanan hidup para sahabat-tabi’in-tabi’aat. Banyak menceritakan teladan para penghulu dakwah, membawa kita berpikir bersama dan menyingkap makna.

Bab yang saya suka adalah Bab VI: Masuki Semua Ruang Kebaikan. Mengapa saya suka bab itu? Sebenarnya saya suka hampir keseluruhan tulisan didalam buku tersebut. Tapi timing yang membuat bab ini menjadi berbeda ‘rasa’nya buat saya pribadi. Kebetulan bab ini saya habiskan didetik-detik sama menemani Mama dihari terakhirnya didunia. Dan pas-nya lagi, tulisan didalamnya, yang beberapa diantaranya bernapaskan ‘birrul walidain’ itulah yang seolah bertumbuk-lenting-sempurna dengan kondisi hati saya saat itu. Dan tulisan didalam bab ini pula yang membuat saya, membuat hati saya berusaha terus bersabar. Seolah bacaan saya saat itu memberikan sinyal. Bayangkan saja, dalam perjalanan menuju Sukabumi (mendampingi Mama), bacaan yang saya baca saat itu berjudul “sebelum dua pintu surga tertutup”.

Tentang rekomendasi, rasa-rasanya saya mekomendasikan keseluruhan tulisan dalam buku ini. Apalagi buat sahabat sekalian yang kerap terjangkit kondisi ‘galau’, yang belakangan menjadi populer (entahlah). Setidaknya ini satu dari sekian banyak obat hati (no offense, itu hanya istilah dari saya).

Belum-belum, bagi sahabat sekalian aktivis dakwah, buku ini pas. Untuk meredakan ‘luka-luka’ yang mungkin sesekali (atau banyak-kali) sahabat sekalian alami. Tenang saja, tidak akan banyak kalian temukan tulisan bernapas cinta-napsu-melulu, karena buku ini memang bukan serial cinta (apa deh?) tapi buku ini menyehatkan, buat ruh (tentu saja!).

Yak! Sekian laporan saya tentang buku ini. Sebenarnya saya ingin berpanjang-panjang lagi dalam bercerita disini. Tapi rasa-rasanya, saya lebih memilih untuk meminjami saja buku ini buat kalian yang berminat (dalam rangka berbagi hikmah, tentunya). Sila hubungi saya dibelakang layar😛

** originally posted on February 17, 2011. Here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s